Uncategorized – Parvatibai Mhaske Institute of Nursing https://pmion.org.in Sun, 11 Jan 2026 08:53:18 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.9.1 https://pmion.org.in/wp-content/uploads/2017/06/cropped-logo-pharmacy-32x32.jpg Uncategorized – Parvatibai Mhaske Institute of Nursing https://pmion.org.in 32 32 khristmas festival https://pmion.org.in/2025/12/25/khristmas-festival/ https://pmion.org.in/2025/12/25/khristmas-festival/#respond Thu, 25 Dec 2025 10:05:10 +0000 https://pmion.org.in/?p=2180
]]>
https://pmion.org.in/2025/12/25/khristmas-festival/feed/ 0
National Science Day https://pmion.org.in/2025/09/25/national-science-day/ https://pmion.org.in/2025/09/25/national-science-day/#respond Thu, 25 Sep 2025 03:08:31 +0000 https://pmion.org.in/?p=2151

Theme: “Think Health, Think Pharmacist”
Date: 25th September 2025
Venue : Seminar Hall of Kakasaheb Mhaske College of Pharmacy, Ahilyanagar
Time: 02.00 PM to 05.00 PM
Organizing Committee: All faculty members and students

Introduction:
On 25th September 2025, the Kakasaheb Mhaske College of Pharmacy, Ahilyanagar celebrated World Pharmacist Day with great enthusiasm. The event aimed to highlight the pivotal role of pharmacists in healthcare, ensuring safe and effective use of medicines, and spreading awareness about the theme of the year: “Think Health, Think Pharmacist”.

The program was successfully organized by the Student Council and Students under the guidance of respected faculty members. The event included speeches, Poster presentation, quiz competition and Essay Competition creating a vibrant and informative atmosphere.

Lamp Lighting Ceremony
The celebration began with the auspicious lamp-lighting ceremony, symbolizing knowledge and enlightenment. The ceremony was led by:
1. Dr. Sandip Badhade
2. Prof. Shubhangi Albhar
3. Prof. Amit Bhapkar
4. Prof. Kalyani Nimbore (Event Coordinator)
5. Prof. Priyanka Yamgar(Event Coordinator)
Their presence added grace and significance to the occasion.

Anchoring
The event was hosted with confidence and enthusiasm by:
• Miss. Snehal Nimbore (Student)
• Miss. Aditi Ghogre (Student)

Their lively anchoring kept the audience engaged and energetic.

Cultural Performances
To celebrate the day, students showcased their talents through:
• Poster Presentation – Winner: Miss. Trupti Shinde
Runner: Miss. Kanchan Satale

• Quiz Competition – Winner: Mr. Sarthak Wandekar and Mr. Gaurav Shinde
Runner: Miss. Anushka Khandave and Vaishnavi Borude

Essay Competition – on topics like “Pandit Deendayal Ji Upadhyaya”
Winner: Snehal Nimbore
Runner: Pranita Kharmate
These performances beautifully blended knowledge with creativity.

Conclusion
The celebration concluded with a Vote of Thanks by Prof. Kalyani Nimbore and Prof. Priyanka Yamgar, expressing gratitude to the Principal, faculty members, Student Council, and participants.
The Pharmacist Day celebration was a memorable blend of learning, creativity, and awareness, reinforcing the crucial role pharmacists play in building a healthier society.

slot gacor

]]>
https://pmion.org.in/2025/09/25/national-science-day/feed/ 0
Annual Day Ceremony https://pmion.org.in/2025/01/23/annual-day-ceremony/ https://pmion.org.in/2025/01/23/annual-day-ceremony/#respond Thu, 23 Jan 2025 10:29:33 +0000 https://pmion.org.in/?p=2066

slot gacor

]]>
https://pmion.org.in/2025/01/23/annual-day-ceremony/feed/ 0
khristmas https://pmion.org.in/2024/12/26/khristmas/ https://pmion.org.in/2024/12/26/khristmas/#respond Thu, 26 Dec 2024 10:30:18 +0000 https://pmion.org.in/?p=2073
]]>
https://pmion.org.in/2024/12/26/khristmas/feed/ 0
Christmas Celebration https://pmion.org.in/2024/09/19/christmas-celebration/ https://pmion.org.in/2024/09/19/christmas-celebration/#respond Thu, 19 Sep 2024 09:28:39 +0000 https://pmion.org.in/?p=2020
]]>
https://pmion.org.in/2024/09/19/christmas-celebration/feed/ 0
Freshers Day https://pmion.org.in/2024/09/19/freshers-day/ https://pmion.org.in/2024/09/19/freshers-day/#respond Thu, 19 Sep 2024 09:18:55 +0000 https://pmion.org.in/?p=2016
]]>
https://pmion.org.in/2024/09/19/freshers-day/feed/ 0
Prinsip Keselamatan Pasien: Teknik Pencegahan Kesalahan Pemberian Obat bagi Perawat https://pmion.org.in/2020/01/11/prinsip-keselamatan-pasien-teknik-pencegahan-kesalahan-pemberian-obat-bagi-perawat/ https://pmion.org.in/2020/01/11/prinsip-keselamatan-pasien-teknik-pencegahan-kesalahan-pemberian-obat-bagi-perawat/#respond Sat, 11 Jan 2020 08:49:10 +0000 https://pmion.org.in/?p=2198 Dalam ekosistem pelayanan kesehatan yang sangat kompleks, penerapan Prinsip Keselamatan Pasien menjadi standar baku yang tidak boleh ditawar demi melindungi nyawa serta integritas medis. Perawat, sebagai garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan pasien selama dua puluh empat jam, memegang tanggung jawab besar dalam memastikan setiap tindakan klinis dilakukan dengan tingkat akurasi maksimal. Salah satu area yang paling krusial dan memiliki risiko tinggi adalah proses administrasi medikasi, di mana ketelitian menjadi pembeda antara kesembuhan dan malapraktik. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan mengenai protokol pengobatan harus terus diperbarui agar setiap tenaga kesehatan mampu mengidentifikasi potensi bahaya sebelum terjadi dampak yang merugikan. Kesadaran kolektif terhadap keselamatan ini bukan hanya tentang mematuhi aturan rumah sakit, melainkan sebuah komitmen etis untuk memberikan pelayanan terbaik yang manusiawi dan aman bagi setiap individu yang sedang dalam masa perawatan.

Tantangan dalam mencegah kesalahan pengobatan sering kali muncul akibat tingginya beban kerja, gangguan konsentrasi, hingga sistem komunikasi yang kurang efektif antar departemen. Kesalahan penulisan resep, pelabelan obat yang mirip atau Look-Alike Sound-Alike (LASA), serta kurangnya verifikasi data pasien adalah faktor risiko yang sering ditemui di lapangan. Untuk meminimalisir hal tersebut, setiap instansi kesehatan wajib menerapkan sistem pelaporan kejadian yang transparan tanpa adanya budaya menyalahkan, sehingga setiap kesalahan dapat dijadikan pelajaran untuk perbaikan sistem di masa depan. Penggunaan teknologi seperti sistem pemindaian kode batang (barcode) pada gelang pasien dan kemasan obat juga terbukti sangat membantu dalam meningkatkan akurasi identifikasi sebelum obat diberikan ke tubuh pasien, mengurangi ketergantungan pada memori manusia yang mungkin saja mengalami kelelahan.

Implementasi Pencegahan Kesalahan Pemberian Obat secara teknis mengharuskan setiap perawat untuk mematuhi prinsip “Tujuh Benar” secara disiplin dan tanpa kecuali. Protokol ini mencakup pemeriksaan benar pasien, benar obat, benar dosis, benar rute, benar waktu, benar dokumentasi, serta benar informasi yang diberikan kepada keluarga. Sebelum cairan atau tablet diberikan, perawat wajib melakukan verifikasi ganda atau double-check dengan rekan sejawat, terutama untuk obat-obatan kategori kewaspadaan tinggi seperti insulin atau antikoagulan. Ketegasan dalam mengikuti langkah-langkah prosedural ini sangat efektif dalam memotong mata rantai kesalahan yang mungkin terjadi di tahap peracikan maupun tahap penyerahan. Dengan konsistensi yang tinggi, risiko reaksi alergi yang tidak terduga atau overdosis yang membahayakan nyawa dapat ditekan hingga ke level terendah, sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan tersebut.

Selain kepatuhan terhadap prosedur, peran edukasi kepada pasien dan keluarga juga menjadi bagian integral dari strategi keselamatan. Pasien yang memahami jenis obat yang mereka konsumsi serta efek samping yang mungkin muncul dapat bertindak sebagai lapisan pertahanan terakhir dalam mendeteksi adanya ketidaksesuaian prosedur. Perawat harus meluangkan waktu untuk menjelaskan kegunaan masing-masing obat dan menanyakan kembali riwayat alergi yang mungkin terlewatkan saat proses pengkajian awal. Komunikasi dua arah yang terbuka ini menciptakan lingkungan yang proaktif, di mana pasien merasa dilibatkan dalam proses penyembuhan mereka sendiri. Penjelasan yang jernih mengenai jadwal minum obat juga akan membantu kepatuhan pasien saat mereka sudah diperbolehkan pulang, sehingga proses pemulihan berlanjut dengan baik di lingkungan rumah tanpa adanya komplikasi teknis akibat salah penggunaan obat secara mandiri.

Seorang Perawat profesional juga dituntut untuk terus mengembangkan kompetensi klinisnya melalui pelatihan manajemen farmakologi yang terbaru secara rutin. Pengetahuan mengenai interaksi obat, farmakokinetik, dan cara penanganan limbah medis yang benar merupakan bagian dari profil tenaga kesehatan yang andal di era modern. Manajemen bangsal yang baik juga berperan dalam menciptakan suasana kerja yang tenang dan terorganisir, sehingga proses persiapan obat dilakukan tanpa adanya interupsi yang tidak perlu. Pemimpin ruang rawat harus memastikan bahwa stok obat tersimpan dengan label yang jelas dan berada dalam suhu yang sesuai agar kualitas zat kimia di dalamnya tetap stabil. Dedikasi terhadap detail-detail teknis semacam inilah yang akan mengangkat reputasi profesi keperawatan sebagai profesi yang mengutamakan ketepatan, keamanan, dan kasih sayang dalam setiap sentuhan layanannya kepada pasien dari berbagai kalangan.

Sebagai kesimpulan, keselamatan dalam pemberian terapi obat adalah akumulasi dari sistem yang kuat, teknologi yang mendukung, dan integritas tenaga medis yang disiplin. Tidak ada ruang untuk kelalaian dalam dunia kesehatan, karena setiap miligram dosis memiliki dampak yang nyata bagi sistem tubuh manusia. Upaya pencegahan kesalahan harus menjadi budaya kerja harian yang tertanam dalam sanubari setiap praktisi kesehatan di rumah sakit maupun puskesmas. Dengan memadukan pengetahuan medis yang mumpuni dan empati yang tinggi, risiko kecelakaan medis dapat dihindari sepenuhnya. Mari kita terus berkomitmen untuk memperkuat protokol keselamatan pasien demi menciptakan ekosistem pelayanan kesehatan Indonesia yang lebih maju, aman, dan berstandar internasional. Masa depan kesehatan bangsa berada di tangan para tenaga medis yang cerdas dalam bertindak dan teliti dalam setiap pengabdian profesinya bagi kemanusiaan.

]]>
https://pmion.org.in/2020/01/11/prinsip-keselamatan-pasien-teknik-pencegahan-kesalahan-pemberian-obat-bagi-perawat/feed/ 0
Etika Keperawatan: Menjaga Privasi dan Konfidensialitas Pasien di Era Digital https://pmion.org.in/2020/01/11/etika-keperawatan-menjaga-privasi-dan-konfidensialitas-pasien-di-era-digital/ https://pmion.org.in/2020/01/11/etika-keperawatan-menjaga-privasi-dan-konfidensialitas-pasien-di-era-digital/#respond Sat, 11 Jan 2020 08:45:19 +0000 https://pmion.org.in/?p=2189 Dalam dunia kesehatan yang semakin terintegrasi dengan teknologi informasi, penerapan Etika Keperawatan menjadi fondasi utama dalam melindungi martabat manusia di tengah arus digitalisasi data. Perawat memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk memastikan bahwa setiap informasi mengenai kondisi kesehatan, riwayat medis, maupun identitas pribadi pasien tetap terjaga kerahasiaannya. Tantangan saat ini bukan lagi sekadar menjaga catatan fisik di rak dokumen, melainkan bagaimana mengelola keamanan data elektronik dari risiko kebocoran maupun penyalahgunaan oleh pihak yang tidak berwenang. Kesadaran akan pentingnya menjaga batasan profesional sangat diperlukan agar hubungan saling percaya antara pasien dan pemberi layanan tetap kokoh. Tanpa adanya jaminan privasi yang kuat, integritas institusi kesehatan akan dipertaruhkan, dan hak-hak dasar pasien untuk mendapatkan perlindungan data pribadi bisa terabaikan dalam sistem pelayanan yang serba otomatis.

Transformasi digital dalam administrasi rumah sakit memang memberikan efisiensi luar biasa dalam hal kecepatan akses data dan koordinasi antar departemen. Namun, kemudahan ini juga membuka celah etis terkait siapa saja yang diperbolehkan melihat catatan perkembangan pasien secara rinci. Seorang praktisi kesehatan harus memiliki disiplin diri untuk tidak membicarakan kondisi pasien di ruang publik atau mengunggah informasi medis ke media sosial meskipun tanpa menyebutkan nama secara eksplisit. Pelanggaran kecil sekalipun dapat berdampak besar pada beban psikologis pasien yang merasa rahasia pribadinya terekspos. Oleh karena itu, penguatan protokol keamanan data serta pelatihan mengenai literasi digital bagi seluruh staf medis menjadi agenda wajib guna membangun ekosistem pelayanan kesehatan yang modern namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

Upaya dalam Menjaga Privasi pasien juga berkaitan erat dengan prosedur tindakan fisik di ruang rawat yang harus dilakukan secara santun dan tertutup. Penggunaan tirai penyekat saat melakukan pemeriksaan atau pemberian terapi adalah langkah sederhana namun bermakna besar dalam menghargai ruang pribadi individu. Dalam konteks era digital, hal ini juga mencakup perlindungan terhadap perangkat pemantau medis yang terhubung dengan jaringan internet agar tidak dapat diretas oleh pihak luar. Setiap transmisi data medis harus melalui jalur komunikasi yang terenkripsi untuk mencegah intersepsi informasi yang sensitif. Perawat sebagai advokat pasien berperan penting dalam memastikan bahwa hak-hak privasi ini tidak terlanggar oleh prosedur teknis yang terkadang bersifat mekanis dan dingin, sehingga sentuhan kemanusiaan dalam setiap asuhan keperawatan tetap menjadi prioritas utama di atas segalanya.

Selain aspek teknis, pemahaman mengenai aspek hukum terkait kerahasiaan medis juga harus dipahami secara mendalam oleh setiap tenaga kesehatan. Peraturan perundang-undangan memberikan batasan yang jelas mengenai kapan rahasia medis boleh dibuka, misalnya untuk kepentingan proses peradilan atau perlindungan kesehatan masyarakat yang lebih luas. Di luar ketentuan hukum tersebut, menutup rapat informasi pasien adalah janji suci yang diucapkan dalam sumpah profesi. Kolaborasi tim medis yang solid harus didasarkan pada prinsip “perlu tahu” (need to know basis), di mana informasi hanya dibagikan kepada rekan sejawat yang memang terlibat langsung dalam penanganan kasus tersebut. Kedewasaan dalam mengelola informasi rahasia ini mencerminkan tingkat profesionalisme dan integritas seorang perawat dalam menjalankan tugasnya sebagai penjaga keamanan informasi kesehatan di tengah masyarakat yang semakin kritis.

Komitmen terhadap prinsip Konfidensialitas di lingkungan digital menuntut adanya sistem verifikasi berlapis saat mengakses Rekam Medis Elektronik (RME). Penggunaan kata sandi yang kuat dan tidak membagikan akun akses kepada rekan kerja adalah bentuk nyata dari tanggung jawab individu dalam menjaga kerahasiaan data. Setiap akses terhadap data pasien harus meninggalkan jejak audit yang jelas sehingga dapat dilakukan pelacakan jika terjadi indikasi penyimpangan. Di sisi lain, memberikan edukasi kepada pasien mengenai cara mereka mengakses data kesehatan sendiri secara aman juga merupakan bagian dari layanan yang transparan. Dengan perpaduan antara kecanggihan teknologi dan keteguhan etika, pelayanan kesehatan dapat berjalan lebih cepat tanpa harus mengorbankan hak-hak pribadi yang sangat sensitif, menciptakan rasa aman bagi setiap warga negara yang mempercayakan kesehatannya kepada para profesional di rumah sakit.

Sebagai kesimpulan, menjaga kerahasiaan pasien di era digital adalah tantangan sekaligus tolok ukur profesionalisme keperawatan modern. Teknologi hanyalah alat, namun karakter dan etika manusialah yang menentukan apakah alat tersebut digunakan untuk kebaikan atau justru merugikan orang lain. Mari kita terus tingkatkan kewaspadaan dan integritas dalam menjaga setiap bit informasi yang telah dipercayakan kepada kita sebagai tenaga kesehatan. Dengan menjaga privasi dengan baik, kita tidak hanya mematuhi hukum, tetapi juga menunjukkan rasa hormat yang mendalam terhadap sesama manusia. Masa depan pelayanan kesehatan Indonesia yang berkualitas sangat bergantung pada kemampuan kita dalam menyelaraskan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai moral yang tidak lekang oleh waktu. Jadikanlah setiap tindakan kita sebagai cerminan dari pengabdian yang cerdas, amanah, dan penuh dedikasi bagi keselamatan serta kehormatan setiap nyawa yang kita layani.

]]>
https://pmion.org.in/2020/01/11/etika-keperawatan-menjaga-privasi-dan-konfidensialitas-pasien-di-era-digital/feed/ 0
Dokumentasi Keperawatan: Kunci Legalitas dan Kontinuitas Pelayanan Kesehatan yang Akurat https://pmion.org.in/2020/01/11/dokumentasi-keperawatan-kunci-legalitas-dan-kontinuitas-pelayanan-kesehatan-yang-akurat/ https://pmion.org.in/2020/01/11/dokumentasi-keperawatan-kunci-legalitas-dan-kontinuitas-pelayanan-kesehatan-yang-akurat/#respond Sat, 11 Jan 2020 08:45:02 +0000 https://pmion.org.in/?p=2188 Dalam dunia medis yang sangat dinamis, penerapan Dokumentasi Keperawatan yang sistematis bukan sekadar tugas administratif tambahan, melainkan instrumen vital yang menjamin keselamatan pasien dan perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan. Catatan medis yang lengkap mencerminkan seluruh proses asuhan, mulai dari pengkajian awal, perumusan diagnosa, perencanaan intervensi, hingga evaluasi hasil tindakan yang telah diberikan. Tanpa adanya pencatatan yang detail, kesinambungan informasi antar tim medis selama pergantian giliran kerja akan terputus, yang berisiko memicu kesalahan fatal dalam pemberian terapi. Dokumen ini berfungsi sebagai bukti otentik bahwa perawat telah menjalankan tugasnya sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku. Oleh karena itu, ketelitian dalam menuliskan setiap observasi klinis adalah cerminan dari profesionalisme dan integritas seorang praktisi kesehatan dalam menjaga kualitas layanan di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan primer lainnya.

Kualitas dari sebuah catatan klinis sangat bergantung pada prinsip akurasi, objektivitas, dan ketepatan waktu dalam penulisannya. Perawat harus mampu menyajikan data yang faktual tanpa mencampurkannya dengan opini subjektif yang tidak berdasar. Misalnya, alih-alih hanya menuliskan “pasien tampak gelisah”, dokumentasi yang baik akan mencantumkan parameter vital seperti frekuensi nadi yang meningkat atau perilaku fisik spesifik yang teramati. Hal ini sangat penting untuk memberikan gambaran yang jelas bagi dokter dalam menentukan langkah medis selanjutnya. Selain itu, penggunaan terminologi medis yang standar sangat dianjurkan untuk menghindari ambiguitas penafsiran antar departemen. Dengan sistem pelaporan yang sinkron, risiko duplikasi tindakan atau terabaikannya keluhan pasien dapat diminimalisir secara signifikan, sehingga efisiensi kerja tim medis tetap terjaga dengan optimal.

Pencatatan yang baik juga menjadi pilar utama dalam menjamin Kontinuitas Pelayanan bagi pasien yang membutuhkan perawatan jangka panjang atau perpindahan antar unit ruang rawat. Informasi mengenai riwayat alergi, respon terhadap dosis obat sebelumnya, serta perkembangan luka harus tersaji secara kronologis agar perawat di unit selanjutnya dapat melanjutkan asuhan tanpa harus memulai dari nol. Proses serah terima pasien atau handover yang didasarkan pada dokumen tertulis yang akurat akan mengurangi celah kesalahan komunikasi yang sering menjadi penyebab insiden keselamatan pasien. Teknologi rekam medis elektronik kini hadir untuk memudahkan akses data tersebut secara real-time, memungkinkan kolaborasi lintas disiplin ilmu seperti ahli gizi dan fisioterapis berjalan lebih harmonis. Integrasi data yang lancar ini memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan yang konsisten dan terkoordinasi dengan baik demi mempercepat masa pemulihan secara menyeluruh.

Selain fungsi klinis, aspek legalitas dari sebuah dokumen asuhan tidak dapat dipandang sebelah mata dalam praktik profesional harian. Dalam kasus persidangan medis atau audit kualitas, rekam medis adalah satu-satunya saksi bisu yang diakui secara hukum untuk membuktikan tindakan yang telah dilakukan. Ada pepatah medis yang menyatakan, “apa yang tidak tertulis, berarti tidak dikerjakan,” yang menekankan betapa krusialnya mencatat setiap detil tindakan, sekecil apa pun itu. Dokumentasi yang buruk dapat menempatkan tenaga kesehatan dalam posisi yang rentan jika terjadi tuntutan dari pihak keluarga pasien. Oleh karena itu, setiap koreksi dalam catatan harus dilakukan sesuai prosedur legal tanpa menghapus tulisan asli, guna menjaga keaslian dokumen. Kedisiplinan dalam hal administratif ini justru memberikan rasa aman bagi perawat dalam menjalankan tugasnya yang penuh risiko setiap harinya di lapangan.

Penerapan standar Pelayanan Kesehatan yang bermutu tinggi menuntut setiap institusi untuk melakukan audit internal terhadap kelengkapan dokumen asuhan secara berkala. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dalam sistem pelaporan maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pelatihan mengenai cara penulisan diagnosa menggunakan standar NANDA, NIC, dan NOC sering kali menjadi agenda wajib bagi perawat guna menyeragamkan persepsi dan kualitas catatan. Dokumentasi yang rapi juga memudahkan proses penelitian kesehatan berbasis data rekam medis di masa depan, yang sangat berguna bagi pengembangan ilmu keperawatan secara global. Dengan menghargai setiap lembar catatan medis sebagai aset intelektual, profesi keperawatan membuktikan kontribusinya yang sangat besar dalam sistem manajemen informasi kesehatan yang modern, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas.

Sebagai kesimpulan, dokumentasi yang akurat adalah denyut nadi dari pelayanan keperawatan yang berkualitas dan aman secara hukum. Keberhasilan pengobatan tidak hanya ditentukan oleh tindakan di tempat tidur pasien, tetapi juga seberapa baik tindakan tersebut dicatat dan dikomunikasikan. Mari kita terus tingkatkan standar pencatatan dengan penuh ketelitian dan tanggung jawab moral. Dokumentasi yang baik bukan hanya memenuhi syarat administratif, melainkan wujud nyata dari penghormatan terhadap hak pasien untuk mendapatkan asuhan yang berkelanjutan. Dengan pengarsipan data yang profesional, kita membangun kepercayaan publik terhadap kredibilitas tenaga kesehatan Indonesia. Jadikanlah setiap catatan yang Anda buat sebagai warisan informasi yang berharga demi keselamatan nyawa manusia dan kemajuan dunia medis yang lebih baik di masa depan.

]]>
https://pmion.org.in/2020/01/11/dokumentasi-keperawatan-kunci-legalitas-dan-kontinuitas-pelayanan-kesehatan-yang-akurat/feed/ 0